TANI

APA KATA MEREKA YANG TELAH MENGUKITI "PELATIHAN HCS"?




Pertanian TANPA PUPUK KIMIA
 JADI "MILYUNER" DENGAN BERTANI "JAHE"
LOMBOK SUPER
MANGGA LEBIH CEPAT BERBUAH
KEKERINGANPUN LOMBOK TETAP SUBUR
PERBANDINGAN KEDELAI
PANEN MELIMPAH
TANAM SEMANGKA DI LUAR MUSIM

TOMAT TANPA PUPUK/PESTISIDA KIMIA

P CAMAT PUN AKTIF BERMITRA DENGAN HCS

TANAM TEMBAKAU TANPA TERSERANG ULAT
LOMBOK SUPER
TINGGI HAMPIR 4 METER
JAGUNG HAMPIR 3 METER
PADI TANPA PUPUK/PESTISIDA KIMIA
TAYANGAN VIDEO TESTIMONI PERTANIAN
PARA MITRA HCS YANG LAIN


TEKHNOLOGI
PENINGKATAN PRODUKSI PADI
BERBASIS ORGANIK
DENGAN SOT HCS
"Bertani tanpa Matun/menyiangi Rumput"

A. Latar Belakang.
               Struktur tanah di Indonesia terkenal sangat subur hingga bercocok tanam apapun bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena ketersediaan unsur hara alami yang melimpah ruah. Akan tetapi seiring dengan datangnya Pembaharu Tekhnologi di bidang Pertanian seperti Nourman Bulgoud dengan "Green Revolution"nya melalui 4 komponen Pertanian, yaitu :

1. Pengaturan Irigasi yang baik.
2. Pemilihan Bibit Unggul.
3. Penggunaan Pupuk Kimia.
4. Penggunaan Pestisida Kimia.

            Diantara 4 Komponen Revolusi hijau tersebut ada 2 Komponen yang perlu Kita "Evaluasi",yakni Penggunaan Pupuk Kimia dan Pestisida Kimia.
Memang dalam waktu singkat konsep "Revolusi Hijau" tersebut dapat membuat Negara yang mengadopsi Tekhnologi tersebut secepat kilat mengalami "swasembada pangan" termasuk Negara yang kita cintai ini...hanya dalam waktu dua tahun setelah aplikasi intensif.

                          Bisakah bertahan lama...? Ternyata tidak...!! Indonesia bertahan hingga 1999 mengalami "swasembada Pangan" dan selanjutnya...."Import Beras"...!!!
Mengapa hal itu terjadi...???
Aplikasi Pupuk Kimia dan Pestisida Kimia telah merusak Tanah, karena bersifat mengikat unsur hara alami dan membunuh mikroorganisme tanah yang berfungsi sebagai dekomposter dan Penghasil Unsur Hara alami. Dengan demikian Tanah menjadi tandus dan gersang.

               Menurut laporan UN Conferensi on Everonment and Development 1992 (Eart Summit) : "Kandungan Mineral Alami Tanah Pertanian di berbagai belahan Dunia telah merosot 55 - 85 % dalam 100 tahun belakangan ini yang disebabkan oleh aplikasi Pupuk Kimia dan Pestisida Kimia pada Pertanian".

                     Menurut Dr. Hiromi Sinya, MD : "Kwalitas hasil tanaman yang kita makan ditentukan oleh tempat tumbuhnya". Dengan demikian berarti Penurunan Mineral Alami dalam Tanah Pertanian yang disebabkan Aplikasi Pupuk Kimia dan Pestisida Kimia, maka Hasil Pertanian saat ini sangat rendah Mineral dan Gizinya untuk dikonsumsi.
Sehingga tidak heran, jika ada pepatah yang menyindir Penduduk Negeri ini : "Seperti Unta yang mati kehausan di Padang pasir, padahal di Pundaknya terdapat kantong air".

                    Tanah yang luas dan subur tapi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, faktanya sampai saat ini masih mendatangkan Bahan Makan Pokok dan berbagai Hasil Bumi dari Negara lain.

Siapa yang "bertanggungjawab" atas semua ini...???

Seorang "Pejuang sejati" adalah Mereka yang tidak sibuk mencari "siapa yang salah", tapi sibuk mencari dan menciptakan "solusi" atas semua persoalan ini.

                    Dalam hal ini PT. HIDUP CERAH SEJAHTERA memberikan "Solusi" terhadap semua ini dengan Konsep "Pertanian Berkelanjutan", mengajak Masyarakat untuk "Back to Nature" dan "Go to Organic" untuk mewujudkan Kelestarian Alam dan mengembalikan Kesuburan Tanah di Bumi Pertiwi ini menuju "Masyarakat Sehat, Mandiri dan Sukses (SMS).

B. Suplemen Organik Tanaman (SOT).

Dalam Pertanian Berkelanjutan yang dikembangkan oleh PT HIDUP CERAH SEJAHTERA, pemakaian SOT mutlak diperlukan untuk setiap langkah Aplikasi.

Manfaat SOT adalah :
1.  Meningkatkan hasil panen 40 - 100 %.
2.  Mencegah gugur Bunga dan Buah.
3.  Memperkuat jaringan akar dan batang.
4.  Berfungsi sebagai Katalisator, dapat mengurangi pemakaian Pupuk Dasar.
5.  Meningkatkan Daya Tahan Tanaman terhadap serangan penyakit terutama      Fungi/Cendawan.
6.  Mempercepat panen untuk tanaman semusim.
7.  Memperpanjang masa produktif tanaman yang sedang berproduksi untuk tanaman yang tidak habis sekali panen.
8.   Sangat baik untuk diterapkan pada proses persemaian dan pembibitan.
9.   Setelah 6 periode tanam, tidak perlu lagi menggunakan  Pupuk kimia.
10. Pada periode tanam pertama, pemakaian Pupuk kimia dapat dikurangi 70%. Periode ke-2 dikurangi 80%, Periode tanam ke-3 sampai ke-6 dikurangi 90%, dan pada periode berikutnya sudah tidak perlu lagi menggunakan Pupuk Kimia, artinya sudah "GOOD BYE' dengan Pupuk Kimia.
11. Segala jenis Hama lebih terkendali.
12. Hasil panen meningkat tajam dari periode tanam sebelumnya.
13. Biaya perawatan/pemupukan lebih hemat.
14. Keuntungan makin berlipat.

* Catatan :
- Untuk sawah 1 hektar memerlukan 6 Liter SOT (per botol isi 0.5 liter)

CARA PENGGUNAAN :
* Untuk Tanaman Lemah seperti kol, sledri dll. menggunakan 4 tutup botol SOT dilarutkan dengan 14 liter air. Penyemprotan 3 kali berturut-turut dengan jarak 10 hari. Penyemprotan pertama umur 10 hari setelah tanam.

* Untuk Tanaman yang tidak Berbatang kayu seperti Padi, Jagung, Cabe, Tomat dll. 6 tutup botol dilarutkan dalam 14 liter air.
Penyemprotan pertama umur 15 hari setelah tanam. Selanjutnya tiap 2 minggu sekali sampai menjelang berbunga.
* Untuk Tanaman Tinggi/Berbatang kayu, seperti Kelapa Sawit, Coklat, Cengkeh, Kopi dll. menggunakan perbandingan 1 : 500 atau 1 tutup botol SOT dicampur dengan 5 liter air.
Lakukan penyemprotan 3 - 4 kali penyemprotan dengan interval 1 minggu dan diulang setiap 3 - 5 bulan kemudian.
* Untuk Tanaman Hias, seperti Mawar, Anggrek, Melati dll. menggunakan perbandingan 1:1500 atau 1 tutup botol SOT dilarutkan dalam 15 liter air. Lakukan penyemprotan 2 minggu sekali.

Catatan :
- Waktu penyemprotan pagi sebelum jam 7.00 wib. atau sore hari di atas jam 16.00 wib.
- Semprotkan pada sisi bawah daun.

C. Peningkatan Produksi Padi.
       1. Pemilihan Benih.
Benih adalah termasuk Kunci utama yang sangat menentukan Keberhasilan Usaha Tani. Oleh karena itu perli dilakukan pemilihan benih yang bermutu/F1 dan perlakuan sebagai berikut :
- Masukkan air bersih 2 - 10 liter ke wadah/ember.
- Masukkan Telur Ayam atau Itik tanpa dipecah ke dalam air.
- Masukkan Garam dapur, aduk perlahan hingga larut, hentikan penambahan garam ketika telur tersebut telah mengapung dan naik ke permukaan.
- Masukkan benih ke dalam air tersebut, sisihkan yang melayang atau mengambang/tidak dipakai.
- Benih yang tenggelam dibersihkan kembali dengan air bersih sampai rasa garamnya hilang.
- Rendam benih dengan PHEFOC selama 15 menit lalu tiriskan sampai kering.
- Rendam benih dengan SOT selama 24, lalu tiriskan sampai kering.
- Benih yang baik sudah terdapat bintik-bintik pada lembaga/embrio.
- Kebutuhan benih padi per hektar 7 - 10 Kg. benih. (Dengan cara konvensional bisa sampai 20 Kg/Ha.)

2. Persemaian.
- Sebaiknya Lahan telah diolah dengan menggunakan POLA HCS.
- Jika tidak memungkinkan, maka Lahan Persemaian diolah sebagaimana biasa, hanya saja ditambah dengan siraman air yang telah menggunakan SOT. Untuk 15 liter air dicampurkan dengan SOT 4 - 8 tutup SOT. Saat memberikan/menyemprot larutan SOT, kondisi lahan telah basah namun tidak tergenang.
- Lahan bedengan persemaian sebaiknya diberi pembatas bambu atau kayu.
- Masa persemaian tidak lebih dari 15 hari.
- Setelah dicabut dan ditali, masukkan ke dalah bak air yang telah dicampur dengan SOT atau ditaruh di atas tanah yang telah digenangi air yang telah diberi SOT agar akar bibit padi terkena larutan SOT, sehingga setelah ditanam tidak mengalami stress atau layu. Dengan demikian, setelah ditanam langsung bisa hidup.

3. Pengolahan Lahan.
- Sebelum dibajak, lakukan penyiangan selama 15 hari agar sinar matahari bekerja mengangkat Top Soil (lapisan paling subur) pada tanah.
- Bajak lahan seperti biasanya.
- Setelah dibajak semprot dengan PHEFOC HCS pada pagi atau sore hari.
- Tunggu sehari lalu di LEP/digenangi air selama 14 hari.
- Sehari sebelum digaru, taburkan BOKASHI/Pupuk Kandang.
- Sehari sebelum tanam, semprot dengan SOT.

4. Penanaman.
    Cara penanam yang baik adalah akar semai dibenamkan pada tanah hingga kedalaman 1 - 2 cm, lalu dorong sedikit ke depan (mirip gerakan membentuk huruf "L".), untuk mempercepat pertumbuhan akar dan memperbanyak peranakan. (Tenaga tanam perlu di Training terlebih dahulu).
    Pengaturan Jarak Tanam dengan "Jajar Legowo", 20X20X20X20X40 atau 30X30.
Jarak tanam akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan akar dan peranakan.

5. Pemupukan berbasis Organik.
- Pupuk Dasar menggunakan Pupuk Kandang/Bokashi.
- Aplikasikan SOT dengan benar dan tepat waktu.
- Penggunaan pupuk kimia hanya 30% dari biasanya, untuk Periode tanam Pertama. Lakukan pemupukan pada minggu ke-2 setelah hari tanam.

6. Penggunaan Air.
       Tanaman padi bukanlah tanaman air, tetapi tanaman yang dapat bertahan hidup dalam kondisi tergenang air. Agar dapat hidup dalam ekosistim basah, padi memerlukan energi yang besar untuk membentuk kantung udara (jaringan aerenchym).
       Hasil penelitian para Ahli menunjukkan bahwa perkembangan dan pertumbuhan akar pada tanaman padi akan terhambat dalam kondisi tergenang air. 70% akar tanaman akan mengalami degradasi atau kematian dalam kondisi tersebut.
       Kondisi paling baik adalah tanah lembab (aerob) selama fase vegetatif.

7. Pengendalian Hama.
Untuk mengantisipasi serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), PT HCS telah mengembangkan Pengendali Hama Organik yang bisa diandalkan, baik dalam masa pencegahan maupun Pemberantasan OPT tersebut.

PHEFOC mempunyai fungsi sebagai berikut :
- Membasmi Wereng, Serangga, Ulat dan lain-lain.
- Memulihkan Tanaman yang telah terserang OPT.
- Mambasmi gulma (benih rumput).
- Mempercepat pertumbuhan.
- Memaksimalkan proses pembuahan.







Selamat mencoba...!!!

INFO PENTING ...!!!
Jika anda menginginkan "Sosialisasi" atau "Previeu"  secara Kelompok di Lingkungan Anda, maka Kami siap melaksanakan.
Kontak Person yang dapat dihubungi :